Sejak sebulan yang lalu, aku
belajar bermain gitar untuk menyiapkan lagu selamat ulang tahun versi accoustic
buatmu. Selama beberapa minggu ini, aku belajar membuat kue. Agar ketika hari
ini tiba, aku bisa memberikan kue buatanku sendiri untukmu. Dan beberapa hari
ini, aku memilih milih hadiah yang akan kuberikan. Kubeli seminggu yang lalu,
ku bungkus rapi, ku hiasi pita warna merah kesukaanmu. Aku membayangkan kejutan
yang kurencanakan. Kejutan kecil bersama teman teman kita. Setelah memberikan
kue dan kado ku, aku akan mengajakmu bicara, menyelesaikan semua kesalahpahaman
yang membuat kita saling mendiamkan beberapa waktu ini. Sederhana saja, aku
hanya ingin mengatakan kepada kamu, tidak apa jika kamu bilang kamu belum bisa
membahagiakan aku sekarang. Bagiku, kehadiranmu saja sudah lebih dari bahagia.
Apapun bisa kita perjuangkan berdua. Tapi jika nanti keraguan ini hadir lagi,
maukah kamu meyakinkanku kembali? Karna aku ingin kamu saja. Bersamamu saja.
Sayangnya, kamu memberiku kejutan
lebih dulu. Pesan yang terakhir kamu kirimkan—yang kamu bilang tidak bisa
membahagiakan, harusnya sudah bisa ku pahami. Sikap mu yang akhir akhir ini
terasa menjauh, juga tanda tanda lain yang harusnya bisa kubaca jelas. Kamu
bertemu orang lain. Merasa nyaman, hingga akhirnya kamu memilihnya sebagai
kekasihmu.
Aku sudah biasa melihatmu
mencintai dan dicintai orang lain, namun haruskah sekarang ? Disaat beberapa
waktu yang lalu kamu masih mengatakan bahwa kamu menyayangiku? Aku kira kita
masih baik baik saja. Kita hanya mengambil jeda. Mengambil jarak agar kita bisa
saling berinstrospeksi diri. Bukankah seindah apapun kata tak akan bermakna
jika tak ada jeda?
Meskipun aku tak pernah kamu beri
kepastian, hatiku sudah berkomitmen untuk menuju mu saja, hubungan kita memang
tidak bernama, tapi bukankah ketika kita saling bilang sayang itu artinya hati
kita punya arah yang sama? Meskipun setiap detiknya hatiku sering meragu, namun
tak pernah terlintas keinginan untuk jatuh pada hati yang lain. Setiap kali ada
hati lain yang hendak datang, bagaimana bisa kuterima jika separuh milikku
telah terbawa olehmu? Bodoh bukan? Karna nyatanya aku hanyalah pelarian.
Persinggahan sementara sebelum kamu menemukan dermaga baru untuk melabuhkan
hati.
Aku tidak mengerti bagaimana
definisi sayang menurutmu. Bagaimana bisa kemarin kamu bilang sayang dan ingin
melihatku bahagia, sementara kini kamu bahagia bersama orang lain? Padahal kamu
tahu jika aku disini, sedang menangisi kepergianmu.

Namun aku tidak bisa
menyalahkanmu. Aku tidak berhak mengatakan kamu salah. Sedari awal, ini
sepenuhnya salahku. Seandainya aku tidak membiarkan mu kembali, tentu akhirnya
tak kan seperti ini. Karna ketika aku mengijinkanmu kembali, itu artinya aku
memberikanmu kesempatan untuk menyakitiku lagi.
Aku minta maaf, jika dimasa lalu
aku pernah melukai mu, hingga akhirnya kamu mungkin punya dendam, lalu
membalasnya sekarang. Jika tujuanmu kembali adalah untuk mematahkan hatiku,
selamat, kamu berhasil. Tapi jika tujuanmu adalah untuk membuatku terpuruk
(lagi), maaf, kamu gagal. Karena setiap patah hati akan membuat aku semakin
kuat. Dan patah hati dari mu yang dulu, sudah menguatkan aku seperti sekarang.
Sakit, patah, luka, pasti iya. Tapi semuanya akan kembali menjadi baik baik
saja. Segera.

Maka hari ini, di hari
kelahiranmu, aku menghadiahi mu maaf, sebaris doa, serta surat al fatikhah yang
ku kirimkan di akhir doaku setiap selesai sholat hari ini. Biar aku dan Tuhan
saja yang tahu apa yang aku minta. Dan kotak berhiaskan pita merah ini, ku
biarkan tersimpan saja di loker ku. Bersama setiap kenangan bersama kamu. Entah sampai kapan akan aku simpan. Entah
sampai kapan aku akan merasa getir setiap kali membukanya. Ku biarkan waktu
yang menjawab. Kata orang orang, waktu adalah penyembuh luka yang baik. Satu
pelajaran paling berharga dari kamu adalah, tidak seharusnya seseorang diberi
kesempatan berkali kali, baik untuk mencintai, maupun menyakiti. Karena ketika
kamu membaca sebuah cerita, meskipun kamu mengulanginya dari awal, akhir ceritanya
akan tetap sama, kalau tokohnya masih sama.
26’05’16

0 komentar:
Posting Komentar