Dua hari lagi. Sosok gadis cantik itu
melingkari kalender tepat di tanggal 29 Mei. Ada senyum tersimpul
ketika hari yang dinantikannya akan segera tiba. Hari dimana dia akan bertemu
dengan seseorang yang
dirindukannya. Hari dimana ia akan
menerima hasil dari belajarnya selama tiga tahun di SMA. Sudah berbulan bulan
dia menghitung hari karena tak sabar menanti hari itu tiba. Dua hari lagi, dia
bukan lagi siswa sekolah menengah atas. Dan dua hari lagi, dia akan bertemu
dengan seseorang yang selalu menciptakan senyumnya. Seseorang yang telah lama
pergi dari sisinya. Dia beralih dari kalender menuju laptopnya. Membuka email yang sebenarnya tidak ada pesan terbaru disana.
“Jadi kita damai?”
“Iya dong, Mel. Emang pernah
musuhan? :p”
Melodi tertawa
membaca email yang sudah sejak dua
bulan lalu selalu dia baca setiap hari. Sejak itu, kehampaan yang selama ini
mengisi hatinya sedikit berkurang. Jarak yang selama ini menciptakan kehampaan
itu kini hanyalah skala dalam peta. Sebaris percakapan nya dengan lelaki yang
selalu dirindukannya itu membuat mereka seakan berhadapan. Seakan kenangan
ketika mereka masih bersama, menjelma lagi menjadi nyata.
“Ya enggak
pernah sih. Tapi kan kamu lebih banyak diam kalo lagi sama aku. Emang aku salah
apa sih? Biasa aja dong kalo sama aku.emangnya aku ini es? Sampai bisa bikin
kamu dingin gitu?”
“Siap
baweel !!”
Melodi tersenyum. Senyum penuh pengharapan. Senyum
penuh tanya. Apakah seseorang di ujung sana juga merindukannya? Apakah
seseorang disana juga selalu terbayang akan kebersamaan mereka? Entahlah, tapi
dia begitu bahagia menunggu hari itu tiba. Ia menarik nafas panjang dan
tersenyum lagi. Menikmati lamunannya sendiri.
Tok tok tok tok
“Mel. Melodi.”
“Ish, itu pasti si Chika. Ganggu orang ngelamun
aja. Iya tunggu bentar.”
Dia beranjak dari laptopnya. Menutupnya dan
berjalan membuka pintu dengan enggan. Lalu menyambut sahabatnya dengan ocehan
yang tak berujung.
“Ah Chika. Kamu ganggu aku lagi ngelamun aja. Nggak tau ya kalo aku lagi
menikmati khayalan aku.” katanya menggerutu.
“Yee. Kamu itu ngelamun sendirian dikamar.
Kesambet baru tau lo!” katanya sambil berlari menuju tempat tidur.
“Ahh, akhirnya bisa berbaring. Kamu nggak tahu sih
perjuangan ku untuk nganterin buku kamu ini. Macet nya parah! Pegel tahu nggak!
Ish, tidur disini enak nih kayaknya.”
“Enak aja. Tempat tidur ku bisa bau nanti. Tapi
makasih loh udah dianterin bukunya.“ ia berlari mengambil bantal dan
melemparkannya tepat diwajah Chika.
“ Awas ya aku bales!” Perang bantal pun dimulai.
“Eh. Kamu lagi ngelamunin apaan emang? Jangan
bilang kalo yang ada di pikiran kamu itu Farrel?”
“Nah itu kamu tau. Hahaha” Melodi tertawa
geli. Sahabatnya itu, memang selalu tahu apa isi hati Melodi. Tak pernah ada
orang lain yang bisa semengerti Chika.
“Dia lagi?” katanya sinis. “Emang kamu nggak inget gimana dia memperlakukan kamu? Gimana dia selalu
nyuekin kamu? Gimana dia selalu nyakitin kamu? Gimana dia selalu dingin sama
kamu. Kamu nggak inget? Perlu aku sebutin satu satu sebab sebab sakit hati kamu
dulu?”
“Nggak usah melotot gitu dong, Chika. Aku inget kok. Inget banget.
Sampai sekarang aku juga belum tau kenapa dia selalu dingin sama aku. Tapi aku
lebih ingat lagi kebersamaan kita dulu waktu kelas satu. Dan itu yang sekarang
aku perjuangkan, Chika. Dan kemarin dia udah janji Chik, janji kalo dia nggak
akan dingin sama aku lagi.
Dan dia nggak akan nyuekin aku
lagi.”
Chika masih ternganga dan melotot mendengar alasan
dari sahabatnya itu. Bukankah itu alasan yang sangat kuno? Sudah berapa kali
orang yang bernama Farrel itu memberi janji. Ujung ujung nya? Melodi cuma
kecewa.
“Dan sudah berapa kali dia memberimu janji, hah?”
“Enggak Chika, yang ini beda. Aku cuma mau jadi
temannya kok.”
“Ya udah, terserah kamu. Kalau orang lagi kasmaran
tuh emang susah ya dikasih tahu. Wah aku mesti siap siap tisue banyak nih.
Barangkali ada yang nangis badai besok lusa.” sindir Chika, Melodi hanya
tersenyum.
