Minggu, 03 Agustus 2014

Dalam Diam

Diposting oleh Putri Novianti di 17.56 0 komentar

Dua hari lagi. Sosok gadis cantik itu melingkari kalender tepat di tanggal 29 Mei. Ada senyum tersimpul ketika hari yang dinantikannya akan segera tiba. Hari dimana dia akan bertemu dengan seseorang yang dirindukannya. Hari dimana ia akan menerima hasil dari belajarnya selama tiga tahun di SMA. Sudah berbulan bulan dia menghitung hari karena tak sabar menanti hari itu tiba. Dua hari lagi, dia bukan lagi siswa sekolah menengah atas. Dan dua hari lagi, dia akan bertemu dengan seseorang yang selalu menciptakan senyumnya. Seseorang yang telah lama pergi dari sisinya. Dia beralih dari kalender menuju laptopnya. Membuka email yang sebenarnya tidak ada pesan terbaru disana.  

“Jadi kita damai?”
“Iya dong, Mel. Emang pernah musuhan? :p” 

Melodi tertawa membaca email yang sudah sejak dua bulan lalu selalu dia baca setiap hari. Sejak itu, kehampaan yang selama ini mengisi hatinya sedikit berkurang. Jarak yang selama ini menciptakan kehampaan itu kini hanyalah skala dalam peta. Sebaris percakapan nya dengan lelaki yang selalu dirindukannya itu membuat mereka seakan berhadapan. Seakan kenangan ketika mereka masih bersama, menjelma lagi menjadi nyata. 

Ya enggak pernah sih. Tapi kan kamu lebih banyak diam kalo lagi sama aku. Emang aku salah apa sih? Biasa aja dong kalo sama aku.emangnya aku ini es? Sampai bisa bikin kamu dingin gitu?”
“Siap baweel !!” 

Melodi tersenyum. Senyum penuh pengharapan. Senyum penuh tanya. Apakah seseorang di ujung sana juga merindukannya? Apakah seseorang disana juga selalu terbayang akan kebersamaan mereka? Entahlah, tapi dia begitu bahagia menunggu hari itu tiba. Ia menarik nafas panjang dan tersenyum lagi. Menikmati lamunannya sendiri.
Tok tok tok tok
“Mel. Melodi.”
“Ish, itu pasti si Chika. Ganggu orang ngelamun aja. Iya tunggu bentar.”
Dia beranjak dari laptopnya. Menutupnya dan berjalan membuka pintu dengan enggan. Lalu menyambut sahabatnya dengan ocehan yang tak berujung.
“Ah Chika. Kamu ganggu aku lagi ngelamun aja. Nggak tau ya kalo aku lagi menikmati khayalan aku.” katanya menggerutu.
“Yee. Kamu itu ngelamun sendirian dikamar. Kesambet baru tau lo!” katanya sambil berlari menuju tempat tidur.
“Ahh, akhirnya bisa berbaring. Kamu nggak tahu sih perjuangan ku untuk nganterin buku kamu ini. Macet nya parah! Pegel tahu nggak! Ish, tidur disini enak nih kayaknya.”
“Enak aja. Tempat tidur ku bisa bau nanti. Tapi makasih loh udah dianterin bukunya.“ ia berlari mengambil bantal dan melemparkannya tepat diwajah Chika.
“ Awas ya aku bales!” Perang bantal pun dimulai.
“Eh. Kamu lagi ngelamunin apaan emang? Jangan bilang kalo yang ada di pikiran kamu itu Farrel?”
“Nah itu kamu tau. Hahaha” Melodi tertawa geli. Sahabatnya itu, memang selalu tahu apa isi hati Melodi. Tak pernah ada orang lain yang bisa semengerti Chika.
“Dia lagi?” katanya sinis. Emang kamu nggak inget gimana dia memperlakukan kamu? Gimana dia selalu nyuekin kamu? Gimana dia selalu nyakitin kamu? Gimana dia selalu dingin sama kamu. Kamu nggak inget? Perlu aku sebutin satu satu sebab sebab sakit hati kamu dulu?”
“Nggak usah melotot gitu dong, Chika. Aku inget kok. Inget banget. Sampai sekarang aku juga belum tau kenapa dia selalu dingin sama aku. Tapi aku lebih ingat lagi kebersamaan kita dulu waktu kelas satu. Dan itu yang sekarang aku perjuangkan, Chika. Dan kemarin dia udah janji Chik, janji kalo dia nggak akan dingin sama aku lagi. Dan dia nggak akan nyuekin aku lagi.”
Chika masih ternganga dan melotot mendengar alasan dari sahabatnya itu. Bukankah itu alasan yang sangat kuno? Sudah berapa kali orang yang bernama Farrel itu memberi janji. Ujung ujung nya? Melodi cuma kecewa.
“Dan sudah berapa kali dia memberimu janji, hah?”
“Enggak Chika, yang ini beda. Aku cuma mau jadi temannya kok.”
“Ya udah, terserah kamu. Kalau orang lagi kasmaran tuh emang susah ya dikasih tahu. Wah aku mesti siap siap tisue banyak nih. Barangkali ada yang nangis badai besok lusa.” sindir Chika, Melodi hanya tersenyum.

 

Corat Coret Putri Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei