Selasa, 20 September 2016

Surat Yang Tak Sempat Sampai Padamu

Diposting oleh Putri Novianti di 21.08 0 komentar


Sejak sebulan yang lalu, aku belajar bermain gitar untuk menyiapkan lagu selamat ulang tahun versi accoustic buatmu. Selama beberapa minggu ini, aku belajar membuat kue. Agar ketika hari ini tiba, aku bisa memberikan kue buatanku sendiri untukmu. Dan beberapa hari ini, aku memilih milih hadiah yang akan kuberikan. Kubeli seminggu yang lalu, ku bungkus rapi, ku hiasi pita warna merah kesukaanmu. Aku membayangkan kejutan yang kurencanakan. Kejutan kecil bersama teman teman kita. Setelah memberikan kue dan kado ku, aku akan mengajakmu bicara, menyelesaikan semua kesalahpahaman yang membuat kita saling mendiamkan beberapa waktu ini. Sederhana saja, aku hanya ingin mengatakan kepada kamu, tidak apa jika kamu bilang kamu belum bisa membahagiakan aku sekarang. Bagiku, kehadiranmu saja sudah lebih dari bahagia. Apapun bisa kita perjuangkan berdua. Tapi jika nanti keraguan ini hadir lagi, maukah kamu meyakinkanku kembali? Karna aku ingin kamu saja. Bersamamu saja.

Sabtu, 04 Juni 2016

Selepas hari itu

Diposting oleh Putri Novianti di 23.35 0 komentar

 Mengagumi dalam diam. Terkadang harus ku bunuh rinduku dengan kejam. Membiarkanmu perlahan tergantikan dari ingatan dengan setumpuk pekerjaan yang sengaja ku cari cari, agar pikiranku tak melulu tentang kamu. Tentang kenangan bersamamu.
Aku teringat ketika kita duduk dalam satu mobil yang sama. Kau duduk tepat didepanku. Ingin rasanya aku mengajakmu berbicara banyak hal. Mendengarkan ceritamu, membicarakan tentang aku, tentang kamu, atau mungkin tentang kita. Tapi sungguh, seluruh kata kata itu hanya mampu sampai di tenggorokanku. Buntu dan bisu rasanya ketika di dekatmu. Aku lebih memilih bersandar pada bangkumu, menutup mata sembari menikmati aroma tubuhmu—yang akan selalu ku ingat, mendengarkanmu bicara, bernyanyi, atau tertawa. Tersenyum saja kau sudah sangat mempesona.

Aku suka sekali melihatmu tersenyum. Itulah kenapa aku sering melewati jalan depan rumahmu. Berharap sesekali aku beruntung bertemu denganmu yang entah sedang apa berada disana, di pekaranganmu. Lalu kita saling tersenyum, saling menyapa lewat senyum. Sesederhana itu, tapi sungguh, efeknya kau bisa membuatku bersemangat seharian.
Maafkan aku, aku pasti terlihat sangat membosankan buatmu. Aku tak bisa seperti teman-teman ku yang seru. Yang selalu dengan mudah tertawa bersamamu. Atau ikut membuat lelucon untuk membuat mu tertawa. Aku hanya bisa menikmati pemandangan itu, tawamu. Sungguh aku pun ingin, tapi didekatmu, rasanya otakku mati. Aku takut salah melakukan ini atau itu. Aku salah tingkah.
Bahkan ketika kau tanyai aku, aku hanya bisa menjawabmu dengan senyuman. Bodohnya aku, kusesali jawaban yang tak sempat keluar itu berhari hari. Harusnya ku katakan saja, ah entahlah. Aku malu.

Kau laki laki tampan. Tentu ada banyak wanita didekatmu, yang juga menyukaimu. Kau pun baik. Pada semua orang didekatmu. Satu lagi hal yang membuatku semakin mengagumimu. Terkadang, aku takut sekali mengartikan setiap kebaikanmu. Aku tahu, kau pasti punya banyak pilihan yang lebih baik dari pada aku.
Maka aku pun hanya berani memandangmu sebatas punggung. Melihatmu tertawa, tersenyum, dan mengagumimu dalam diam. Begini saja sudah cukup. Kadang perasaan bisa selucu ini. Dengan melihatmu tersenyum saja semua sakitku pergi. Lelahku berkurang. Luka ku membaik. Bahkan setelah hari melelahkan yang kita lewati bersama, malamnya aku tak juga terlelap. Masih belum rela mengkahiri hari ini. Ajaib bukan?
Aku berharap, semoga Tuhan akan terus mengijinkanku menikmati senyummu. Memberi ku kesempatan untuk melewati hari bersamamu. Sekali lagi. Atau jika boleh setiap hari. Ah, tidak. Siapalah aku yang berani berharap setinggi itu.
Dan jika sampai pada saat dimana perasaan ini memang sudah tidak pada tempatnya, semoga Dia segera membantuku menghapuskannya, dan tak membiarkannya semakin dalam. Karna saat aku telah jatuh hati, rasanya akan menyakitkan ketika pada akhirnya hanya aku yang menyimpan perasaan.
 

Corat Coret Putri Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei