Dua hari lagi. Sosok gadis cantik itu
melingkari kalender tepat di tanggal 29 Mei. Ada senyum tersimpul
ketika hari yang dinantikannya akan segera tiba. Hari dimana dia akan bertemu
dengan seseorang yang
dirindukannya. Hari dimana ia akan
menerima hasil dari belajarnya selama tiga tahun di SMA. Sudah berbulan bulan
dia menghitung hari karena tak sabar menanti hari itu tiba. Dua hari lagi, dia
bukan lagi siswa sekolah menengah atas. Dan dua hari lagi, dia akan bertemu
dengan seseorang yang selalu menciptakan senyumnya. Seseorang yang telah lama
pergi dari sisinya. Dia beralih dari kalender menuju laptopnya. Membuka email yang sebenarnya tidak ada pesan terbaru disana.
“Jadi kita damai?”
“Iya dong, Mel. Emang pernah
musuhan? :p”
Melodi tertawa
membaca email yang sudah sejak dua
bulan lalu selalu dia baca setiap hari. Sejak itu, kehampaan yang selama ini
mengisi hatinya sedikit berkurang. Jarak yang selama ini menciptakan kehampaan
itu kini hanyalah skala dalam peta. Sebaris percakapan nya dengan lelaki yang
selalu dirindukannya itu membuat mereka seakan berhadapan. Seakan kenangan
ketika mereka masih bersama, menjelma lagi menjadi nyata.
“Ya enggak
pernah sih. Tapi kan kamu lebih banyak diam kalo lagi sama aku. Emang aku salah
apa sih? Biasa aja dong kalo sama aku.emangnya aku ini es? Sampai bisa bikin
kamu dingin gitu?”
“Siap
baweel !!”
Melodi tersenyum. Senyum penuh pengharapan. Senyum
penuh tanya. Apakah seseorang di ujung sana juga merindukannya? Apakah
seseorang disana juga selalu terbayang akan kebersamaan mereka? Entahlah, tapi
dia begitu bahagia menunggu hari itu tiba. Ia menarik nafas panjang dan
tersenyum lagi. Menikmati lamunannya sendiri.
Tok tok tok tok
“Mel. Melodi.”
“Ish, itu pasti si Chika. Ganggu orang ngelamun
aja. Iya tunggu bentar.”
Dia beranjak dari laptopnya. Menutupnya dan
berjalan membuka pintu dengan enggan. Lalu menyambut sahabatnya dengan ocehan
yang tak berujung.
“Ah Chika. Kamu ganggu aku lagi ngelamun aja. Nggak tau ya kalo aku lagi
menikmati khayalan aku.” katanya menggerutu.
“Yee. Kamu itu ngelamun sendirian dikamar.
Kesambet baru tau lo!” katanya sambil berlari menuju tempat tidur.
“Ahh, akhirnya bisa berbaring. Kamu nggak tahu sih
perjuangan ku untuk nganterin buku kamu ini. Macet nya parah! Pegel tahu nggak!
Ish, tidur disini enak nih kayaknya.”
“Enak aja. Tempat tidur ku bisa bau nanti. Tapi
makasih loh udah dianterin bukunya.“ ia berlari mengambil bantal dan
melemparkannya tepat diwajah Chika.
“ Awas ya aku bales!” Perang bantal pun dimulai.
“Eh. Kamu lagi ngelamunin apaan emang? Jangan
bilang kalo yang ada di pikiran kamu itu Farrel?”
“Nah itu kamu tau. Hahaha” Melodi tertawa
geli. Sahabatnya itu, memang selalu tahu apa isi hati Melodi. Tak pernah ada
orang lain yang bisa semengerti Chika.
“Dia lagi?” katanya sinis. “Emang kamu nggak inget gimana dia memperlakukan kamu? Gimana dia selalu
nyuekin kamu? Gimana dia selalu nyakitin kamu? Gimana dia selalu dingin sama
kamu. Kamu nggak inget? Perlu aku sebutin satu satu sebab sebab sakit hati kamu
dulu?”
“Nggak usah melotot gitu dong, Chika. Aku inget kok. Inget banget.
Sampai sekarang aku juga belum tau kenapa dia selalu dingin sama aku. Tapi aku
lebih ingat lagi kebersamaan kita dulu waktu kelas satu. Dan itu yang sekarang
aku perjuangkan, Chika. Dan kemarin dia udah janji Chik, janji kalo dia nggak
akan dingin sama aku lagi.
Dan dia nggak akan nyuekin aku
lagi.”
Chika masih ternganga dan melotot mendengar alasan
dari sahabatnya itu. Bukankah itu alasan yang sangat kuno? Sudah berapa kali
orang yang bernama Farrel itu memberi janji. Ujung ujung nya? Melodi cuma
kecewa.
“Dan sudah berapa kali dia memberimu janji, hah?”
“Enggak Chika, yang ini beda. Aku cuma mau jadi
temannya kok.”
“Ya udah, terserah kamu. Kalau orang lagi kasmaran
tuh emang susah ya dikasih tahu. Wah aku mesti siap siap tisue banyak nih.
Barangkali ada yang nangis badai besok lusa.” sindir Chika, Melodi hanya
tersenyum.
Dia terdiam. Kata kata sahabatnya itu ada benarnya juga. Farrel
memang sering sekali membuatnya menangis.
Dulu mereka pernah dekat. Bahkan sangat dekat.
Melodi memang menyukai Farrel sejak dia duduk di kelas satu. Mereka
seperti sepasang perangko dan amplop yang tidak pernah terpisahkan. Saat kelas
satu dulu, Chika, Melodi dan Farrel adalah tiga serangkai bintang kelas. Nilai
mereka selau kejar kejaran. Tapi Melodi lebih sering meraih rangking satu.
Mereka bertiga sering belajar dan jalan jalan bersama. Tapi sikap Farrel berubah. Entah sejak kapan.
Mungkin sejak Melodi menyadari bahwa ada rasa lain yang tumbuh dihatinya. Rasa yang entah
harus digambarkan seperti apa. Namun yang jelas sikap Farrel tiba tiba dingin. Bahkan mereka tak lagi terlihat
bersama sejak kelas dua.
Melodi sudah mencoba mencari tahu. Dia selalu
mencoba mendekati Farrel lagi. Tapi semakin dia mendekat, Farrel semakin
mengacuhkannya.
**
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan Melodi.
Dan hari ini juga, Melodi akan bertemu dengan Farrel. Setelah naik ke kelas
tiga, orang tua Farrel membawanya pindah ke Bogor. Sejak saat itulah Melodi tak
pernah mendapat kabar tentang Farrel.
Ada dua hal yang benar benar membuat Melodi
berdebar selama menunggu pengumuman. Seseorang yang di rindukannya kini duduk
disampingnya dan hasil akhir ujiannya.
“Nyampe jam berapa tadi?” Melodi memberanikan diri
menyapa Farrel lebih dulu.
“Jam 11 tadi udah sampai.” Suara Farrel masih
sama. Suara yang selalu terdengar merdu ditelinga Melodi. Suara yang agak serak
yang dia rindukan selama satu tahun ini. Dulu Melodi sering mendengar Farrel
menyanyi. Bahkan Farrel pernah membuatkan lagu untuk Melodi.
“Oh, pengumuman kelulusanmu kapan?”
“Udah tadi pagi, dan aku lulus” Farrel tersenyum
ramah. Senyum yang sudah lama
tak dilihatnya. Lengkung yang sederhana itu mengisyaratkan banyak hal.
Senyum yang selalu membawa Melodi dalam mimpi indah. Senyum yang seperti coklat bagi Melodi. Manis
dan menenangkan.
“Setelah menerima pengumuman aku langsung
berangkat ke sini.”
“Selamat ya atas kelulusannya” Melodi mengulurkan
tangannya dan tersenyum.
”Iya makasih” jawab Farrel sembari menyambut
uluran tangan Melodi. Jabat tangan itu terasa begitu hangat. Seandainya
bisa, Melodi ingin terus menggenggam tangan ini. Menghentikan waktu dan tetap
memandang wajah putih dan matanya yang teduh. Mata itu selalu terlihat menarik
bagi nya. Saat hujan turun, mata itu terlihat hangat, tetapi ketika panas terik
mata itu terlihat teduh dan menyejukkan. Rambutnya yang cepak dan begitu rapi
membuatnya semakin terlihat tampan. Dulu melodi suka sekali mengacak acak
rambut itu. Farrel mungkin bertambah tinggi 10 cm sejak terakhir kali mereka
bertemu.
**
Sudah setengah jam Farrel duduk disamping Melodi,
namun ia lebih banyak mengobrol dengan Chika yang duduk di depan mereka. Perasaan
cemburu itu selalu muncul setiap kali melihat mereka tertawa bersama. Dia
merasa hanya seperti penonton yang menyaksikan betapa mereka saling melepas
rindu. Dia berusaha memulai percakapan dengan Farrel. Tapi kekakuan tak bisa
dihindari. Semua terasa dingin. Dan berbeda.
“Ya Tuhan!
Kenapa rasanya nggak enak banget,
melihat mereka begitu akrabnya dan aku hanya diabaikan.” pekik Melodi dalam hati. Mata nya mulai
memanas. Rasanya air mata itu sudah berkumpul di pelupuk matanya.Ia berusaha menahan tangisnya. Ini bukan saatnya
untuk menangis.
“Selamat anak anak ku. Sekolah kita lulus 100%”
kepala sekolah memulai pidatonya disambut riuh tepuk tangan dari seluruh
penjuru aula. Semua bersorak dan lega. Termasuk Melodi. Sesak yang
sedari tadi mengekangnya sedikit berkurang. Ia menarik nafas panjang dan
menghembuskannya perlahan. Berharap bisa memperbaiki perasaannya.
“Dan bapak akan umumkan peraih nilai ujian
tertinggi tahun ini.”
“Nilai tertinggi ketiga diraih oleh..”
“Chika Pricilla”
Bangku disekitar Melodi riuh oleh tepuk tangan. Ia
dan teman teman sekelasnya memberi selamat pada Chika. Ia melihat Farrel
mengulurkan tangan pada Chika dan..
memeluknya? Farrel memeluk Chika? Kenapa harus memeluknya? Astaga!
“Nilai terbaik kedua diraih oleh..”
Masih terdengar kepala sekolah berbicara. Namun
Melodi terbatu ditempatnya. Ia masih belum percaya atas apa yang baru saja
dilihatnya. Pikirannya begitu ribut dan dipenuhi argumen argumen tak
berguna. Kecemburuan itu mencapai puncaknya.
“Dan peraih nilai terbaik dalam ujian nasional
tahun ini adalah...”
Melodi masih terduduk lemas. Suara kepala sekolah
yang tadinya keras kini hanya samar didengarnya. Ia merasakan sakit yang
menusuk nusuk. Ia masih menatap Farrel, yang sedang tertawa bahagia melihat
Chika di atas panggung. Melodi masih memandangi nya dengan penuh tanya. Menebak nebak pesan yang tersirat dari
tatapan mata Ferrel saat memandang Chika. Apa Ferrel mencintai Chika?
“Adalah.. Senja Melodi”
Bangku disekitar Melodi kembali riuh. Semua
bertepuk tangan. Tapi Melodi masih terdiam ditempatnya.
“Mel? Melodi? Kamu juara Mel”
Melodi tersadar. Semua teman teman memandanginya.
Termasuk Farrel. Satu persatu teman teman Melodi menyalaminya. Tapi dia hanya memandang
Farrel, yang ketika Melodi melewatinya, Farrel hanya tersenyum dan mengucapkan
selamat. Senyum itu terlihat menusuk dan begitu menyakitkan. Ya! Bahkan dia tak
menyalami Melodi.
Dia sampai di atas panggung. Perasaanya benar
benar tak karuan. Dia bahagia tapi juga kecewa. Dia puas tapi juga sedih.
Entahlah. Apa dia hanya ingin depeluk juga oleh Farrel? Tidak! Dia hanya ingin
Farrel menganggapnya ada! Chika menyambutnya diatas panggung dan tersenyum
ramah padanya. Namun ia merasa sulit sekali tersenyum.
Setelah diperbolehkan turun. Dia berjalan cepat.
Tidak, dia berlari! Menuju tempat dimana dia bisa menangis. Dia meninggalkan
aula dan riuh tepuk tangannya. Yang dia mau hanya sendirian.
“Selamat ya Chika.” Sambut Farrel saat teman teman
nya turun panggung.
“Makasih Rel. Oh ya, aku harus cepat pulang nih. Pengen
cepet cepet bilang sama ayah dan ibu
kalo aku juara. Yeayy! “
“Iya deh yang lagi seneng. Eh, Melodi mana Chik?”
“Lhoh bukanya tadi udah turun duluan?”
“Aku belum ketemu lagi tadi. Ya udah, aku cari dia
dulu ya?”
“Iya Rel, eh sampaikan selamat dari aku ya? Aku
pulang duluan. Daaah!”
Farrel berkeliling sekolah mencari Melodi. Dengan
perasaan sedikit khawatir, ia mencari Melodi ke kantin, ruang kelas, hingga
parkiran tapi Melodi tak disana. Sampai akhirnya ia menemukan Melodi di halaman
sekolah. Duduk di bangku taman sendirian. Rambut hitamnya yang sepunggung itu
menutupi wajahnya. Melodi terlihat tertunduk. Menutupi wajahnya dengan
tangannya. Dia mendengar Melodi terisak.
“Melodi?” Farrel mendekat. Ia hendak menyentuh
bahu Melodi. Tapi Melodi tiba tiba berdiri.
“Mel? Teman teman tadi nyariin kamu. Kok kamu
malah disini?”
Melodi diam. Dia berusaha menyembunyikan
tangisnya. Sebisa mungkin dia menghapus air matanya. Perasaannya tak karuan.
Bahkan sulit sekali untuk dijelaskan. Dia melangkah hendak berlari. Tapi Farrel
mencegahnya.
“Kok kamu diem aja Mel. Kamu kenapa?” tanya Farrel
masih menahan Melodi.
“Sejak kapan kamu peduli sama aku?” jawab Melodi
setelah berbalik. Kini mereka saling berhadapan. Farrel melihat mata melodi
yang basah. Melodi tampak lesu dan marah. Kesedihan itu tergambar jelas dari
wajahnya. Namun bagi Farrel, Melodi tetaplah cantik.
“Kok kamu ngomongnya gitu?” jawabnya masih tak
mengerti.
“Iya. Sejak kapan kamu mau tahu aku kenapa, aku
kenapa nangis, aku kenapa sedih? Sejak kapan kamu peduli? Bukannya aku nggak
pernah ada artinya buat kamu? Aku nggak penting kan buat kamu? Kenapa tiba tiba
kamu peduli?” mata Melodi kembali memanas. Ia semakin sesak dan sulit bernafas
karna menahan air matanya.
“Kamu kenapa sih Mel? Aku nanya baik baik kok kamu
malah kaya gitu?”
“Kamu masih nanya aku kenapa? Kamu nggak sadar?
Mana yang kamu bilang nggak akan dingin lagi sama aku? Mana yang kamu bilang
kamu akan jadi temen aku? Kamu beda tau nggak Rel. Kamu selalu beda kalo sama
aku! Kamu nggak pernah bisa memperlakukan aku layaknya temen kamu. Sikap kamu
itu selalu beda kalo sama aku. Waktu sama Chika, kamu bisa ketawa kamu bisa
bercanda. Tapi sama aku? Kamu cuma bisa DIAM!” menyadari nada suaranya semakin
meninggi, Melodi menarik nafas panjang dan berusaha menata kata di pikirannya.
“Aku salah apa sih Rel? Apa bedanya aku sama teman
teman? Sama Chika, sama April? Aku cuma pengen kita kaya dulu. Ketawa bareng,
bercanda bareng. Nggak kayak gini! Tadi kamu bisa ketawa ketiwi sama Chika,
sama temen temen yang lain, bahkan kamu meluk Chika! Kamu nggak tahu rasanya
kayak gimana waktu ngeliat kamu meluk Chika sementara aku? Cuma kamu kacangin!”
Farrel diam memandang Melodi. Ia melihat raut
wajah yang kecewa, sedih semua ada di wajah Melodi. Tapi tak ada satu kata pun
yang keluar dari mulut Farrel. Ia memilih diam. Mendengar semua kata kata
Melodi yang menghujamnya.
“Oh, kamu tahu apa bedanya aku sama mereka?” Melodi
melanjutkan. Ia menghela nafas sejenak. Mengumpulkan keberaniannya untuk
mengatakan hal yang sebenarnya.
“Bedanya, aku sayang sama kamu dan mereka enggak!”
hampir ia menangis mengatakannya. Menyadari nadanya meninggi, ia menghela nafas lagi. Mencoba menenangkan
diri. Amarahnya semakin memuncak ketika melihat Farrel yang hanya membisu
dihadapannya. Seandainya saja dia bisa, dia ingin menampar Farrel saat itu
juga. Agar Farrel sadar betapa Melodi mencintainya. Namun cinta macam apa yang
tega menyakiti orang yang dicintainya?
“Aku nggak pernah minta kamu buat sayang sama aku.
Aku juga nggak pernah minta kamu buat cinta sama aku. Karna aku tahu, perasaan nggak
bisa dipaksain! Tapi aku cuma bisa berharap, kamu bisa ngeliat ke
aku dikit aja. Kamu bisa nengok sesekali ke aku, dan tanya
kenapa aku diam. Aku nggak pernah minta sama kamu, karna aku bukan siapa siapa
kamu! Aku cuma bisa berharap, tapi setiap kali aku
berharap, apa yang aku dapat? Kecewa! Aku selalu mencoba percaya setiap kali
kamu janji sama aku. Janji nggak akan nyakitin aku lagi, janji gak akan
mengacuhkan ku lagi. Tapi janji janji kamu itu cuma omong kosong!”
“Tapi ya sudahlah, aku sudah lelah, sangat lelah.
Lelah terus menangis. Lelah kamu sakitin. Yang terakhir ini bener bener nggak
bisa aku tahan lagi. Bener bener menyakitkan Rel, udah cukup. Udah cukup aku nangis
karna kamu.”
Dia berlalu. Meninggalkan lelaki yang masih
terbatu di tempatnya. Dia sudah muak berbicara dengan Farrel yang hanya bisa
mematung saat dia ingin mendengar penjelasan darinya. Ia lelah diabaikan. Dia
terus berjalan. Beberapa langkah, hingga suara lirih memanggilnya.
“Mel, maafin aku kalau aku menyakiti perasaanmu.”
Melodi terhenti. Ia menarik nafas panjang untuk menahan
tangisnya.
“Aku nggak tahu Rel. Aku nggak tahu gimana
perasaan aku sekarang. Aku nggak tahu aku bisa maafin kamu atau enggak. Sudah
terlalu banyak kata maaf yang keluar dari mulut kamu. Dan sudah terlalu sering
kamu kayak gini. Sekarang yang ada hanya marah dan kecewa. Dulu, aku punya rasa
ingin sekali memilikimu. Sangat ingin. Tapi sekarang, jika rasa itu masih ada,
pasti tak jauh lebih besar dari rasa ingin melihatmu bahagia. Ya. Aku hanya
ingin kamu bahagia sekarang. Dan jika dengan perginya aku, akan membuatmu lebih
bahagia Rel. Aku akan pergi.”
Melodi melangkah
lagi. Dengan perasaan yang berantakan dan hati yang hancur. Dengan kepasrahan dan kebimbangan. Tapi
kelegaan sedikit ia rasakan. Akhirnya apa yang dia pendam selama ini terucapkan juga. Semua beban yang selama ini
menghimpitnya telah ia curahkan. Kini ia tak peduli, meski orang yang ia cintai
mungkin tak mau lagi melihatnya. Ia tak peduli.
***
Entah sudah berapa lama lelaki itu terdiam
ditempatnya. Bayangan kejadian beberapa jam yang lalu masih tak mau lepas dari
ingatanya. Setiap kata yang di ucapkan oleh Melodi masih terngiang jelas.
Lelaki itu duduk termangu diatas rumput halaman sekolah. Menatap lurus kedepan
dengan tatapan yang hampa. Dia tak pernah berfikir jika perbuatannya bisa
membuat Melodi semarah itu. Sesedih itu. Dan yang paling membuatnya terkejut,
Melodi mencintainya. Ya! Teman yang selama ini dia kagumi, ternyata menaruh
hati padanya. Atau, perasaan Farrel bukan hanya sebatas rasa kagum? Entahlah,
dia sendiri tak mengerti kenapa dia bisa sekalut ini. Dia memang tak pernah
berani berbicara pada Melodi. Dia selalu salah tingkah di depan Melodi. Itu
yang membuatnya tak mau dekat dekat dengan Melodi. Dia takut. Tapi diam diam
dia selalu memperhatikan Melodi. Sosok yang selalu dia kagumi.
Dia teringat saat dia kelas satu. Saat Melodi
terpilih sebagai ketua kelas. Saat itu, dia melihat ada pesona yang selalu
membuatnya tak bisa tidur. Setiap kali Melodi berbicara di depan kelas, Melodi
terlihat berwibawa. Sinar matanya begitu lembut. Seperti meminta tanpa perlu
berkata. Mata itu selalu membuatnya tak bisa menolak setiap permintaan Melodi. Dan
terakhir, senyumnya. Senyum penuh ketulusan. Senyum kemenangan. Senyum yang
selalu jadi penyemangat untuknya. Ia pernah terpuruk saat itu, saat nilainya
anjlok karena dia terlalu fokus pada tim basketnya. Namun Melodi tak pernah
menyerah memberinya semangat.
Farrel masih terdiam, hingga suara handphone nya
membuatnya tersadar.
“Halo Chika. Ada apa?”
“Rel, Kamu dimana sekarang?” Terdengar suara panik
dari ujung sana.
“Aku masih disekolah. Kenapa kamu panik ? Ada apa Chika?”
“Rel, kamu tadi ketemu Melodi nggak? Tadi aku di
telfon sama orang tuanya Melodi, Rel. Mereka bilang.. Mel.. Melodi.”
“Melodi kenapa, Chika?”
"Melodi kecelakaan ,Rel"
"Melodi kecelakaan ,Rel"
***
Hari ini terlalu terik untuk berjalan jalan.
Mentari begitu cerah bersinar. Namun sesosok lelaki yang membawa seikat bunga
lili putih yang cantik bahkan tak peduli akan panas yang menyengat tubuhnya. Ia
mengenakan kemeja abu abu dan celana jeans hitam. Ia berjalan tenang dengan
raut wajah yang hampa. Matanya terlihat kosong menyusuri jalan yang teduh.
Langit begitu cerah hari itu. Tapi wajahnya begitu mendung. Lelaki itu
menggenggam seikat bunga yang dia bawa kuat kuat. Seperti sedang menggenggem
tangan seseorang. Bunga lili putih ini adalah bunga yang disukai oleh seseorang
yang ia cintai. Tempat yang ia datangi kali ini masih begitu sepi. Hanya ada
beberapa orang yang duduk duduk di beberapa sudut. Beberapa penjual bunga
terlihat menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Ia kini sampai ke tempat yang
ditujunya. Meletakkan bunga lili itu ditempatnya lalu tersenyum kecut. Senyum
yang mengisyaratkan luka yang mendalam. Yang bahkan terlalu sulit digambarkan.
“ Aku benar benar rindu senyum kamu. Aku rindu
cara kamu tertawa. Cara kamu tersipu setiap kali aku memujimu. Aku rindu cara
kamu mengacak acak rambutku dulu.” dia tersenyum lagi. Namun ketika dia
mengingat masa itu. Dadanya sesak sekali. Air mata itu sudah ingin sekali
menetes. Mengalir deras.
“Aku rindu caramu memberiku semangat, setiap kali
aku hendak menyerah. Seandainya waktu bisa ku putar. Aku ingin menahanmu saat
itu. Saat kau begitu marah padaku. Aku ingin memelukmu. Dan mengatakan kalau
aku juga mencintaimu. Tapi aku tak seberani itu. Aku terlalu takut
kehilanganmu. Aku takut kau menjauh. Namun kusadari, sikap ku justru menjauhkan
kita.“
“Aku bahkan tak percaya kalau kau bisa cemburu
dengan kebersamaan ku dan Chika. Tapi sungguh, setiap pembicaraanku dengannya,
itu hanyalah tentang kau.
“Sudah tujuh hari. Bukan aku tak merelakanmu pergi.
Namun aku menyesal aku tak sempat mengatakan ini semua padamu. Aku menyesal
terlalu banyak menyakitimu. Namun apapun yang terjadi kini, aku hanya ingin kau
tahu, aku akan selalu mencintaimu, Melodi. Selalu.”
Laki laki itu menjauh. Meninggalakan apa yang
sedari tadi hanya diam membisu. Dia berlalu bersama rasa yang ia tinggalkan
disini. Meski setengah hati nya telah pergi. Namun masih tetap ada nama itu
dihatinya. Nama yang terukir di hatinya, juga terukir di batu nisan yang tujuh
hari ini dia kunjungi. Senja Melodi.
“Dan
jika hidupku berakhir hari ini Tuhan
Berikan aku dua hal saja
Waktu dan keberanian untuk mengatakan
padanya
Jika aku mencintainya”
~ Senja Melodi


0 komentar:
Posting Komentar