Minggu, 03 Agustus 2014

Dalam Diam

Diposting oleh Putri Novianti di 17.56

Dua hari lagi. Sosok gadis cantik itu melingkari kalender tepat di tanggal 29 Mei. Ada senyum tersimpul ketika hari yang dinantikannya akan segera tiba. Hari dimana dia akan bertemu dengan seseorang yang dirindukannya. Hari dimana ia akan menerima hasil dari belajarnya selama tiga tahun di SMA. Sudah berbulan bulan dia menghitung hari karena tak sabar menanti hari itu tiba. Dua hari lagi, dia bukan lagi siswa sekolah menengah atas. Dan dua hari lagi, dia akan bertemu dengan seseorang yang selalu menciptakan senyumnya. Seseorang yang telah lama pergi dari sisinya. Dia beralih dari kalender menuju laptopnya. Membuka email yang sebenarnya tidak ada pesan terbaru disana.  

“Jadi kita damai?”
“Iya dong, Mel. Emang pernah musuhan? :p” 

Melodi tertawa membaca email yang sudah sejak dua bulan lalu selalu dia baca setiap hari. Sejak itu, kehampaan yang selama ini mengisi hatinya sedikit berkurang. Jarak yang selama ini menciptakan kehampaan itu kini hanyalah skala dalam peta. Sebaris percakapan nya dengan lelaki yang selalu dirindukannya itu membuat mereka seakan berhadapan. Seakan kenangan ketika mereka masih bersama, menjelma lagi menjadi nyata. 

Ya enggak pernah sih. Tapi kan kamu lebih banyak diam kalo lagi sama aku. Emang aku salah apa sih? Biasa aja dong kalo sama aku.emangnya aku ini es? Sampai bisa bikin kamu dingin gitu?”
“Siap baweel !!” 

Melodi tersenyum. Senyum penuh pengharapan. Senyum penuh tanya. Apakah seseorang di ujung sana juga merindukannya? Apakah seseorang disana juga selalu terbayang akan kebersamaan mereka? Entahlah, tapi dia begitu bahagia menunggu hari itu tiba. Ia menarik nafas panjang dan tersenyum lagi. Menikmati lamunannya sendiri.
Tok tok tok tok
“Mel. Melodi.”
“Ish, itu pasti si Chika. Ganggu orang ngelamun aja. Iya tunggu bentar.”
Dia beranjak dari laptopnya. Menutupnya dan berjalan membuka pintu dengan enggan. Lalu menyambut sahabatnya dengan ocehan yang tak berujung.
“Ah Chika. Kamu ganggu aku lagi ngelamun aja. Nggak tau ya kalo aku lagi menikmati khayalan aku.” katanya menggerutu.
“Yee. Kamu itu ngelamun sendirian dikamar. Kesambet baru tau lo!” katanya sambil berlari menuju tempat tidur.
“Ahh, akhirnya bisa berbaring. Kamu nggak tahu sih perjuangan ku untuk nganterin buku kamu ini. Macet nya parah! Pegel tahu nggak! Ish, tidur disini enak nih kayaknya.”
“Enak aja. Tempat tidur ku bisa bau nanti. Tapi makasih loh udah dianterin bukunya.“ ia berlari mengambil bantal dan melemparkannya tepat diwajah Chika.
“ Awas ya aku bales!” Perang bantal pun dimulai.
“Eh. Kamu lagi ngelamunin apaan emang? Jangan bilang kalo yang ada di pikiran kamu itu Farrel?”
“Nah itu kamu tau. Hahaha” Melodi tertawa geli. Sahabatnya itu, memang selalu tahu apa isi hati Melodi. Tak pernah ada orang lain yang bisa semengerti Chika.
“Dia lagi?” katanya sinis. Emang kamu nggak inget gimana dia memperlakukan kamu? Gimana dia selalu nyuekin kamu? Gimana dia selalu nyakitin kamu? Gimana dia selalu dingin sama kamu. Kamu nggak inget? Perlu aku sebutin satu satu sebab sebab sakit hati kamu dulu?”
“Nggak usah melotot gitu dong, Chika. Aku inget kok. Inget banget. Sampai sekarang aku juga belum tau kenapa dia selalu dingin sama aku. Tapi aku lebih ingat lagi kebersamaan kita dulu waktu kelas satu. Dan itu yang sekarang aku perjuangkan, Chika. Dan kemarin dia udah janji Chik, janji kalo dia nggak akan dingin sama aku lagi. Dan dia nggak akan nyuekin aku lagi.”
Chika masih ternganga dan melotot mendengar alasan dari sahabatnya itu. Bukankah itu alasan yang sangat kuno? Sudah berapa kali orang yang bernama Farrel itu memberi janji. Ujung ujung nya? Melodi cuma kecewa.
“Dan sudah berapa kali dia memberimu janji, hah?”
“Enggak Chika, yang ini beda. Aku cuma mau jadi temannya kok.”
“Ya udah, terserah kamu. Kalau orang lagi kasmaran tuh emang susah ya dikasih tahu. Wah aku mesti siap siap tisue banyak nih. Barangkali ada yang nangis badai besok lusa.” sindir Chika, Melodi hanya tersenyum.


 Dia terdiam. Kata kata sahabatnya itu ada benarnya juga. Farrel memang sering sekali membuatnya menangis.
Dulu mereka pernah dekat. Bahkan sangat dekat. Melodi memang menyukai Farrel sejak dia duduk di kelas satu. Mereka seperti sepasang perangko dan amplop yang tidak pernah terpisahkan. Saat kelas satu dulu, Chika, Melodi dan Farrel adalah tiga serangkai bintang kelas. Nilai mereka selau kejar kejaran. Tapi Melodi lebih sering meraih rangking satu. Mereka bertiga sering belajar dan jalan jalan bersama. Tapi sikap Farrel berubah. Entah sejak kapan. Mungkin sejak Melodi menyadari bahwa ada rasa lain yang tumbuh dihatinya. Rasa yang entah harus digambarkan seperti apa. Namun yang jelas sikap Farrel tiba tiba dingin. Bahkan mereka tak lagi terlihat bersama sejak kelas dua.
Melodi sudah mencoba mencari tahu. Dia selalu mencoba mendekati Farrel lagi. Tapi semakin dia mendekat, Farrel semakin mengacuhkannya.
**
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan Melodi. Dan hari ini juga, Melodi akan bertemu dengan Farrel. Setelah naik ke kelas tiga, orang tua Farrel membawanya pindah ke Bogor. Sejak saat itulah Melodi tak pernah mendapat kabar tentang Farrel.
Ada dua hal yang benar benar membuat Melodi berdebar selama menunggu pengumuman. Seseorang yang di rindukannya kini duduk disampingnya dan hasil akhir ujiannya.
“Nyampe jam berapa tadi?” Melodi memberanikan diri menyapa Farrel lebih dulu.
“Jam 11 tadi udah sampai.” Suara Farrel masih sama. Suara yang selalu terdengar merdu ditelinga Melodi. Suara yang agak serak yang dia rindukan selama satu tahun ini. Dulu Melodi sering mendengar Farrel menyanyi. Bahkan Farrel pernah membuatkan lagu untuk Melodi.
“Oh, pengumuman kelulusanmu kapan?”
“Udah tadi pagi, dan aku lulus” Farrel tersenyum ramah. Senyum yang sudah lama tak dilihatnya. Lengkung yang sederhana itu mengisyaratkan banyak hal. Senyum yang selalu membawa Melodi dalam mimpi indah. Senyum yang seperti coklat bagi Melodi. Manis dan menenangkan.
“Setelah menerima pengumuman aku langsung berangkat ke sini.”
“Selamat ya atas kelulusannya” Melodi mengulurkan tangannya dan tersenyum.
”Iya makasih” jawab Farrel sembari menyambut uluran tangan Melodi. Jabat tangan itu terasa begitu hangat. Seandainya bisa, Melodi ingin terus menggenggam tangan ini. Menghentikan waktu dan tetap memandang wajah putih dan matanya yang teduh. Mata itu selalu terlihat menarik bagi nya. Saat hujan turun, mata itu terlihat hangat, tetapi ketika panas terik mata itu terlihat teduh dan menyejukkan. Rambutnya yang cepak dan begitu rapi membuatnya semakin terlihat tampan. Dulu melodi suka sekali mengacak acak rambut itu. Farrel mungkin bertambah tinggi 10 cm sejak terakhir kali mereka bertemu.
**
Sudah setengah jam Farrel duduk disamping Melodi, namun ia lebih banyak mengobrol dengan Chika yang duduk di depan mereka. Perasaan cemburu itu selalu muncul setiap kali melihat mereka tertawa bersama. Dia merasa hanya seperti penonton yang menyaksikan betapa mereka saling melepas rindu. Dia berusaha memulai percakapan dengan Farrel. Tapi kekakuan tak bisa dihindari. Semua terasa dingin. Dan berbeda.
Ya Tuhan! Kenapa rasanya nggak enak banget, melihat mereka begitu akrabnya dan aku hanya diabaikan.” pekik Melodi dalam hati. Mata nya mulai memanas. Rasanya air mata itu sudah berkumpul di pelupuk matanya.Ia berusaha menahan tangisnya. Ini bukan saatnya untuk menangis.
“Selamat anak anak ku. Sekolah kita lulus 100%” kepala sekolah memulai pidatonya disambut riuh tepuk tangan dari seluruh penjuru aula. Semua bersorak dan lega. Termasuk Melodi. Sesak yang sedari tadi mengekangnya sedikit berkurang. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Berharap bisa memperbaiki perasaannya.
“Dan bapak akan umumkan peraih nilai ujian tertinggi tahun ini.”
“Nilai tertinggi ketiga diraih oleh..”
“Chika Pricilla”
Bangku disekitar Melodi riuh oleh tepuk tangan. Ia dan teman teman sekelasnya memberi selamat pada Chika. Ia melihat Farrel mengulurkan tangan  pada Chika dan.. memeluknya? Farrel memeluk Chika? Kenapa harus memeluknya? Astaga!
“Nilai terbaik kedua diraih oleh..”
Masih terdengar kepala sekolah berbicara. Namun Melodi terbatu ditempatnya. Ia masih belum percaya atas apa yang baru saja dilihatnya. Pikirannya begitu ribut dan dipenuhi argumen argumen tak berguna. Kecemburuan itu mencapai puncaknya.
“Dan peraih nilai terbaik dalam ujian nasional tahun ini adalah...”
Melodi masih terduduk lemas. Suara kepala sekolah yang tadinya keras kini hanya samar didengarnya. Ia merasakan sakit yang menusuk nusuk. Ia masih menatap Farrel, yang sedang tertawa bahagia melihat Chika di atas panggung. Melodi masih memandangi nya dengan penuh tanya. Menebak nebak pesan yang tersirat dari tatapan mata Ferrel saat memandang Chika. Apa Ferrel mencintai Chika?
“Adalah.. Senja Melodi”
Bangku disekitar Melodi kembali riuh. Semua bertepuk tangan. Tapi Melodi masih terdiam ditempatnya.
“Mel? Melodi? Kamu juara Mel”
Melodi tersadar. Semua teman teman memandanginya. Termasuk Farrel. Satu persatu teman teman Melodi menyalaminya. Tapi dia hanya memandang Farrel, yang ketika Melodi melewatinya, Farrel hanya tersenyum dan mengucapkan selamat. Senyum itu terlihat menusuk dan begitu menyakitkan. Ya! Bahkan dia tak menyalami Melodi.
Dia sampai di atas panggung. Perasaanya benar benar tak karuan. Dia bahagia tapi juga kecewa. Dia puas tapi juga sedih. Entahlah. Apa dia hanya ingin depeluk juga oleh Farrel? Tidak! Dia hanya ingin Farrel menganggapnya ada! Chika menyambutnya diatas panggung dan tersenyum ramah padanya. Namun ia merasa sulit sekali tersenyum.
Setelah diperbolehkan turun. Dia berjalan cepat. Tidak, dia berlari! Menuju tempat dimana dia bisa menangis. Dia meninggalkan aula dan riuh tepuk tangannya. Yang dia mau hanya sendirian.

“Selamat ya Chika.” Sambut Farrel saat teman teman nya turun panggung.
“Makasih Rel. Oh ya, aku harus cepat pulang nih. Pengen cepet cepet bilang sama ayah dan  ibu kalo aku juara. Yeayy! “
“Iya deh yang lagi seneng. Eh, Melodi mana Chik?”
“Lhoh bukanya tadi udah turun duluan?”
“Aku belum ketemu lagi tadi. Ya udah, aku cari dia dulu ya?”
“Iya Rel, eh sampaikan selamat dari aku ya? Aku pulang duluan. Daaah!”
Farrel berkeliling sekolah mencari Melodi. Dengan perasaan sedikit khawatir, ia mencari Melodi ke kantin, ruang kelas, hingga parkiran tapi Melodi tak disana. Sampai akhirnya ia menemukan Melodi di halaman sekolah. Duduk di bangku taman sendirian. Rambut hitamnya yang sepunggung itu menutupi wajahnya. Melodi terlihat tertunduk. Menutupi wajahnya dengan tangannya. Dia mendengar Melodi terisak.
“Melodi?” Farrel mendekat. Ia hendak menyentuh bahu Melodi. Tapi Melodi tiba tiba berdiri.
“Mel? Teman teman tadi nyariin kamu. Kok kamu malah disini?”
Melodi diam. Dia berusaha menyembunyikan tangisnya. Sebisa mungkin dia menghapus air matanya. Perasaannya tak karuan. Bahkan sulit sekali untuk dijelaskan. Dia melangkah hendak berlari. Tapi Farrel mencegahnya.
“Kok kamu diem aja Mel. Kamu kenapa?” tanya Farrel masih menahan Melodi.
“Sejak kapan kamu peduli sama aku?” jawab Melodi setelah berbalik. Kini mereka saling berhadapan. Farrel melihat mata melodi yang basah. Melodi tampak lesu dan marah. Kesedihan itu tergambar jelas dari wajahnya. Namun bagi Farrel, Melodi tetaplah cantik.
“Kok kamu ngomongnya gitu?” jawabnya masih tak mengerti.
“Iya. Sejak kapan kamu mau tahu aku kenapa, aku kenapa nangis, aku kenapa sedih? Sejak kapan kamu peduli? Bukannya aku nggak pernah ada artinya buat kamu? Aku nggak penting kan buat kamu? Kenapa tiba tiba kamu peduli?” mata Melodi kembali memanas. Ia semakin sesak dan sulit bernafas karna menahan air matanya.
“Kamu kenapa sih Mel? Aku nanya baik baik kok kamu malah kaya gitu?”
“Kamu masih nanya aku kenapa? Kamu nggak sadar? Mana yang kamu bilang nggak akan dingin lagi sama aku? Mana yang kamu bilang kamu akan jadi temen aku? Kamu beda tau nggak Rel. Kamu selalu beda kalo sama aku! Kamu nggak pernah bisa memperlakukan aku layaknya temen kamu. Sikap kamu itu selalu beda kalo sama aku. Waktu sama Chika, kamu bisa ketawa kamu bisa bercanda. Tapi sama aku? Kamu cuma bisa DIAM!” menyadari nada suaranya semakin meninggi, Melodi menarik nafas panjang dan berusaha menata kata di pikirannya.
“Aku salah apa sih Rel? Apa bedanya aku sama teman teman? Sama Chika, sama April? Aku cuma pengen kita kaya dulu. Ketawa bareng, bercanda bareng. Nggak kayak gini! Tadi kamu bisa ketawa ketiwi sama Chika, sama temen temen yang lain, bahkan kamu meluk Chika! Kamu nggak tahu rasanya kayak gimana waktu ngeliat kamu meluk Chika sementara aku? Cuma kamu kacangin!”
Farrel diam memandang Melodi. Ia melihat raut wajah yang kecewa, sedih semua ada di wajah Melodi. Tapi tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Farrel. Ia memilih diam. Mendengar semua kata kata Melodi yang menghujamnya.
“Oh, kamu tahu apa bedanya aku sama mereka?” Melodi melanjutkan. Ia menghela nafas sejenak. Mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
“Bedanya, aku sayang sama kamu dan mereka enggak!” hampir ia menangis mengatakannya. Menyadari nadanya meninggi, ia menghela nafas lagi. Mencoba menenangkan diri. Amarahnya semakin memuncak ketika melihat Farrel yang hanya membisu dihadapannya. Seandainya saja dia bisa, dia ingin menampar Farrel saat itu juga. Agar Farrel sadar betapa Melodi mencintainya. Namun cinta macam apa yang tega menyakiti orang yang dicintainya?
“Aku nggak pernah minta kamu buat sayang sama aku. Aku juga nggak pernah minta kamu buat cinta sama aku. Karna aku tahu, perasaan nggak bisa dipaksain! Tapi aku cuma bisa berharap, kamu bisa ngeliat ke aku dikit aja. Kamu bisa nengok sesekali ke aku, dan  tanya kenapa aku diam. Aku nggak pernah minta sama kamu, karna aku bukan siapa siapa kamu! Aku cuma bisa berharap, tapi setiap kali aku berharap, apa yang aku dapat? Kecewa! Aku selalu mencoba percaya setiap kali kamu janji sama aku. Janji nggak akan nyakitin aku lagi, janji gak akan mengacuhkan ku lagi. Tapi janji janji kamu itu cuma omong kosong!”
“Tapi ya sudahlah, aku sudah lelah, sangat lelah. Lelah terus menangis. Lelah kamu sakitin. Yang terakhir ini bener bener nggak bisa aku tahan lagi. Bener bener menyakitkan Rel, udah cukup. Udah cukup aku nangis karna kamu.”
Dia berlalu. Meninggalkan lelaki yang masih terbatu di tempatnya. Dia sudah muak berbicara dengan Farrel yang hanya bisa mematung saat dia ingin mendengar penjelasan darinya. Ia lelah diabaikan. Dia terus berjalan. Beberapa langkah, hingga suara lirih memanggilnya.
“Mel, maafin aku kalau aku menyakiti perasaanmu.”
Melodi terhenti. Ia menarik nafas panjang untuk menahan tangisnya.
“Aku nggak tahu Rel. Aku nggak tahu gimana perasaan aku sekarang. Aku nggak tahu aku bisa maafin kamu atau enggak. Sudah terlalu banyak kata maaf yang keluar dari mulut kamu. Dan sudah terlalu sering kamu kayak gini. Sekarang yang ada hanya marah dan kecewa. Dulu, aku punya rasa ingin sekali memilikimu. Sangat ingin. Tapi sekarang, jika rasa itu masih ada, pasti tak jauh lebih besar dari rasa ingin melihatmu bahagia. Ya. Aku hanya ingin kamu bahagia sekarang. Dan jika dengan perginya aku, akan membuatmu lebih bahagia Rel. Aku akan pergi.”
Melodi melangkah lagi. Dengan perasaan yang berantakan dan hati yang hancur. Dengan kepasrahan dan kebimbangan. Tapi kelegaan sedikit ia rasakan. Akhirnya apa yang dia pendam selama ini terucapkan juga. Semua beban yang selama ini menghimpitnya telah ia curahkan. Kini ia tak peduli, meski orang yang ia cintai mungkin tak mau lagi melihatnya. Ia tak peduli.
***
Entah sudah berapa lama lelaki itu terdiam ditempatnya. Bayangan kejadian beberapa jam yang lalu masih tak mau lepas dari ingatanya. Setiap kata yang di ucapkan oleh Melodi masih terngiang jelas. Lelaki itu duduk termangu diatas rumput halaman sekolah. Menatap lurus kedepan dengan tatapan yang hampa. Dia tak pernah berfikir jika perbuatannya bisa membuat Melodi semarah itu. Sesedih itu. Dan yang paling membuatnya terkejut, Melodi mencintainya. Ya! Teman yang selama ini dia kagumi, ternyata menaruh hati padanya. Atau, perasaan Farrel bukan hanya sebatas rasa kagum? Entahlah, dia sendiri tak mengerti kenapa dia bisa sekalut ini. Dia memang tak pernah berani berbicara pada Melodi. Dia selalu salah tingkah di depan Melodi. Itu yang membuatnya tak mau dekat dekat dengan Melodi. Dia takut. Tapi diam diam dia selalu memperhatikan Melodi. Sosok yang selalu dia kagumi.
Dia teringat saat dia kelas satu. Saat Melodi terpilih sebagai ketua kelas. Saat itu, dia melihat ada pesona yang selalu membuatnya tak bisa tidur. Setiap kali Melodi berbicara di depan kelas, Melodi terlihat berwibawa. Sinar matanya begitu lembut. Seperti meminta tanpa perlu berkata. Mata itu selalu membuatnya tak bisa menolak setiap permintaan Melodi. Dan terakhir, senyumnya. Senyum penuh ketulusan. Senyum kemenangan. Senyum yang selalu jadi penyemangat untuknya. Ia pernah terpuruk saat itu, saat nilainya anjlok karena dia terlalu fokus pada tim basketnya. Namun Melodi tak pernah menyerah memberinya semangat.
Farrel masih terdiam, hingga suara handphone nya membuatnya tersadar.
“Halo Chika. Ada apa?”
“Rel, Kamu dimana sekarang?” Terdengar suara panik dari ujung sana.
“Aku masih disekolah. Kenapa kamu panik ? Ada apa Chika?”
“Rel, kamu tadi ketemu Melodi nggak? Tadi aku di telfon sama orang tuanya Melodi, Rel. Mereka bilang.. Mel.. Melodi.”
“Melodi kenapa, Chika?”
"Melodi kecelakaan ,Rel"
***
Hari ini terlalu terik untuk berjalan jalan. Mentari begitu cerah bersinar. Namun sesosok lelaki yang membawa seikat bunga lili putih yang cantik bahkan tak peduli akan panas yang menyengat tubuhnya. Ia mengenakan kemeja abu abu dan celana jeans hitam. Ia berjalan tenang dengan raut wajah yang hampa. Matanya terlihat kosong menyusuri jalan yang teduh. Langit begitu cerah hari itu. Tapi wajahnya begitu mendung. Lelaki itu menggenggam seikat bunga yang dia bawa kuat kuat. Seperti sedang menggenggem tangan seseorang. Bunga lili putih ini adalah bunga yang disukai oleh seseorang yang ia cintai. Tempat yang ia datangi kali ini masih begitu sepi. Hanya ada beberapa orang yang duduk duduk di beberapa sudut. Beberapa penjual bunga terlihat menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Ia kini sampai ke tempat yang ditujunya. Meletakkan bunga lili itu ditempatnya lalu tersenyum kecut. Senyum yang mengisyaratkan luka yang mendalam. Yang bahkan terlalu sulit digambarkan.
“ Aku benar benar rindu senyum kamu. Aku rindu cara kamu tertawa. Cara kamu tersipu setiap kali aku memujimu. Aku rindu cara kamu mengacak acak rambutku dulu.” dia tersenyum lagi. Namun ketika dia mengingat masa itu. Dadanya sesak sekali. Air mata itu sudah ingin sekali menetes. Mengalir deras.
“Aku rindu caramu memberiku semangat, setiap kali aku hendak menyerah. Seandainya waktu bisa ku putar. Aku ingin menahanmu saat itu. Saat kau begitu marah padaku. Aku ingin memelukmu. Dan mengatakan kalau aku juga mencintaimu. Tapi aku tak seberani itu. Aku terlalu takut kehilanganmu. Aku takut kau menjauh. Namun kusadari, sikap ku justru menjauhkan kita.“
“Aku bahkan tak percaya kalau kau bisa cemburu dengan kebersamaan ku dan Chika. Tapi sungguh, setiap pembicaraanku dengannya, itu hanyalah tentang kau.
“Sudah tujuh hari. Bukan aku tak merelakanmu pergi. Namun aku menyesal aku tak sempat mengatakan ini semua padamu. Aku menyesal terlalu banyak menyakitimu. Namun apapun yang terjadi kini, aku hanya ingin kau tahu, aku akan selalu mencintaimu, Melodi. Selalu.”
Laki laki itu menjauh. Meninggalakan apa yang sedari tadi hanya diam membisu. Dia berlalu bersama rasa yang ia tinggalkan disini. Meski setengah hati nya telah pergi. Namun masih tetap ada nama itu dihatinya. Nama yang terukir di hatinya, juga terukir di batu nisan yang tujuh hari ini dia kunjungi. Senja Melodi.


Dan jika hidupku berakhir hari ini Tuhan
Berikan aku dua hal saja
Waktu dan keberanian untuk mengatakan padanya
Jika aku mencintainya” ~ Senja Melodi












*** Tulisan ini di ikutsertakan dalam kompetisi menulis cerpen #Jatuh Cinta Diam Diam ***
@KlubCeritaDwita @_PlotPoint

0 komentar:

Posting Komentar

 

Corat Coret Putri Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei