This is my first Story!! Yuhuuuu.. Cerita nya aku lagi hepyy bgt.. Aku baru aja selesai nulis cerpen pertama aku nih.. hehe
Sebenernya aku dulu pernah sempet nulis novel.. Tapi cuma sampe 25 halaman aja udah ngambeg, :D
Waktu itu ceritanya kelas 3 SMP. Karna mau ujian jadi stop nulis nya. nah.. waktu mau lanjut lagi malah udah lupa.. haha. Ya udah biarin aja jadi draft. Sekarang aku lebih suka nulis puisi. Kan gk perlu waktu lama tuh..
Eh eh.. kok malah ngelantur.. Ya sudah, ini dia cerpen pertama saya ^^
Siap siap tisue yaa.. Selamat menikmati.. :D
Waktu itu ceritanya kelas 3 SMP. Karna mau ujian jadi stop nulis nya. nah.. waktu mau lanjut lagi malah udah lupa.. haha. Ya udah biarin aja jadi draft. Sekarang aku lebih suka nulis puisi. Kan gk perlu waktu lama tuh..
Eh eh.. kok malah ngelantur.. Ya sudah, ini dia cerpen pertama saya ^^
Siap siap tisue yaa.. Selamat menikmati.. :D
Tok tok tok
“Ta,itu ada teman kamu di depan” teriak ibu sambil mengetuk pintu kamar.
“Iya bentar bu”. “Ada siapa bu?” Tanya ku sambil membuka pintu. “Itu ada temen kamu. Ibu juga nggak tau itu siapa. Belum pernah kesini.”
“siapa sih? Cewek? “
“Bukan, cowok lho Ta. Manis anaknya.”
Hah? Cowok? Siapa ya? Ada cowok datang ke rumah aku? Seingat ku aku nggak punya pacar. Kalo teman sekelas, ibu pasti kenal. Tapi ibu nggak kenal. Trus siapa dong? Jadi penasaran.
Aku segera menuju keruang tamu untuk menjawab rasa penasaran ku. Ku lihat ada cowok yang duduk membelakangi ku. Rambut nya.. emm.. sepertinya aku kenal. Tiba tiba saja jantung ku berdegup kencang. Dia sepertinya..
“Ta,itu ada teman kamu di depan” teriak ibu sambil mengetuk pintu kamar.
“Iya bentar bu”. “Ada siapa bu?” Tanya ku sambil membuka pintu. “Itu ada temen kamu. Ibu juga nggak tau itu siapa. Belum pernah kesini.”
“siapa sih? Cewek? “
“Bukan, cowok lho Ta. Manis anaknya.”
Hah? Cowok? Siapa ya? Ada cowok datang ke rumah aku? Seingat ku aku nggak punya pacar. Kalo teman sekelas, ibu pasti kenal. Tapi ibu nggak kenal. Trus siapa dong? Jadi penasaran.
Aku segera menuju keruang tamu untuk menjawab rasa penasaran ku. Ku lihat ada cowok yang duduk membelakangi ku. Rambut nya.. emm.. sepertinya aku kenal. Tiba tiba saja jantung ku berdegup kencang. Dia sepertinya..
“Kak Exel?” Aku terkejut ketika ia menoleh dan wajah itu yang ku temui. Aku memperhatikan nya. Wajah yang manis dengan rambut nya yang berdiri. Lalu tubuh nya yang tinggi dan atletis membuat nya terlihat sempurna. Yaa.. benar benar dia. Aku menarik nafas dalam dalam. Mencoba menenangkan diri dan duduk dihadapan nya. Aku masih tidak percaya dia ada dihadapanku. Kak exel? Sekarang? Dirumahku? Nggak ada hujan,petir,badai atau apapun dia datang kerumahku?
“Hai, Vista. Apa kabar?” sapa nya ramah. Membuyarkan lamunan ku. Dan terakhir,senyum nya. Ohh. Betapa senyum itu selalu membuatku meleleh. “Baik kak.” Jawabku singkat sambil berusaha menarik kedua ujung bibirku dan memaksanya tersenyum. Keringat ku tak henti menetes. Aku gugup, bahkan sangat gugup.
“Ada apa ya kak?”
“Kalo kamu bisa, aku mau ngajak kamu jalan jalan.” Issh.. dia tersenyum lagi. Membuatku semakin gugup.
“Jalan? Kemana?”
“Gimana kalo kita ke danau? Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu”
“Ehm. Kalo gitu aku ganti baju dulu kak.”
“Okey” Jawab nya sambil tersenyum.
Aku berjalan menuju kamar ku. Dengan sejuta tanda tanya di kepalaku. Apa yang terjadi? Apa yang menuntun nya datang kerumah ku. Menemuiku lagi? Setelah hampir satu tahun menghilang.
Aku masih ingat betul tentang apa yang membuatnya pergi. Aku masih sangat ingat apa yang membuatnya menghilang. Aku juga masih ingat kapan terakhir kali dia menghubungi ku. Tahun lalu. Aku ingat, tentang bagaimana ia merusak hari ulang tahun ku. Tentang bagaimana dia memutuskan untuk tak lagi menghubungiku. Karna orang yang pernah dia anggap sebagai adik ini tak lebih berharga dari seseorang yang dia sayang.
“Vista, lama banget kamu dandan nya. Kasian temen kamu tuh yang nungguin.” Panggilan ibu membuyarkan lamunan ku. Aku bergegas menuju ruang tamu. Dengan masih banyak tanda Tanya di kepala ku.
“Udah siap kan?”
“Udah” jawabku singkat sambil tersenyum.
Setelah berpamitan,kami berangkat menuju danau tempat favorit kami dulu. Tempat dimana biasanya nya kami bertukar cerita. Tempat dimana biasanya aku menangis bersamanya. Tempat yang sangat tenang untuk menyendiri.
Aku kembali teringat saat dia bercerita tentang seseorang
yang dia sayang. Di danau itu dia
mengungkapkan semua uneg uneg nya. Bukan cerita bahagia. Tapi masalah. Tentang
aku.
“Dia ingin aku memilih” katanya kala itu.
“Dia ingin aku memilih kamu atau dia” aku tau benar siapa yang dimaksud. Aku juga tau benar apa yang sedang terjadi.
“Lalu?” jawab ku mencoba tenang. Sebenarnya air mata ku sudah ingin sekali pecah. Tapi aku menatapnya iba. Aku mengerti apa yang dirasakannya. Kebimbangan itu. Benar benar terbaca jelas dari raut wajahnya.
“Kamu tau kan betapa kalian punya peran masing masing dalam hidup ku? Kamu juga tau perasaan ku. Tapi dia tidak pernah tau.”
Aku melihatnya tertunduk. Aku bisa merasakan kesedihannya dari tatapan nya yang redup.
Aku hanya diam. Dan membiarkan angin yang berhembus menengahi kebisuan ini.
“Ta,kok diem aja?” lamunan ku buyar. Aku tersadar, masih di atas motor nya.
“Bentar lagi kita sampai kok”
“Eh, iya” jawab ku masih terkejut.
Tak sampai 10 menit kami sudah sampai di danau. Musim hujan ini membuat air danau terlihat lebih tinggi dari pada terakhir kali aku kesini. Begitu turun dari motor, angin ang sejuk menyambut kami. Air nya sedikit berombak karena angin. Di sekitar danau beberapa kapal kecil berlabuh ditepian. Kami biasa menyewanya untuk sekedar menikmati berlayar di air yang tenang. Tapi kali ini,kami memilih duduk di bawah pohon di pinggiran danau. Untuk lebih focus pada apa yang akan kami bicarakan.
“Dia ingin aku memilih” katanya kala itu.
“Dia ingin aku memilih kamu atau dia” aku tau benar siapa yang dimaksud. Aku juga tau benar apa yang sedang terjadi.
“Lalu?” jawab ku mencoba tenang. Sebenarnya air mata ku sudah ingin sekali pecah. Tapi aku menatapnya iba. Aku mengerti apa yang dirasakannya. Kebimbangan itu. Benar benar terbaca jelas dari raut wajahnya.
“Kamu tau kan betapa kalian punya peran masing masing dalam hidup ku? Kamu juga tau perasaan ku. Tapi dia tidak pernah tau.”
Aku melihatnya tertunduk. Aku bisa merasakan kesedihannya dari tatapan nya yang redup.
Aku hanya diam. Dan membiarkan angin yang berhembus menengahi kebisuan ini.
“Ta,kok diem aja?” lamunan ku buyar. Aku tersadar, masih di atas motor nya.
“Bentar lagi kita sampai kok”
“Eh, iya” jawab ku masih terkejut.
Tak sampai 10 menit kami sudah sampai di danau. Musim hujan ini membuat air danau terlihat lebih tinggi dari pada terakhir kali aku kesini. Begitu turun dari motor, angin ang sejuk menyambut kami. Air nya sedikit berombak karena angin. Di sekitar danau beberapa kapal kecil berlabuh ditepian. Kami biasa menyewanya untuk sekedar menikmati berlayar di air yang tenang. Tapi kali ini,kami memilih duduk di bawah pohon di pinggiran danau. Untuk lebih focus pada apa yang akan kami bicarakan.
“Terakhir kali kita ke sini tahun lalu ya Ta?” katanya
memulai pembicaraan.
“Iya.. Tahun lalu”
“Apa kamu mau tau kemana aku setahun ini?”
Aku tercengang mendengar pernyataan nya. Jantung ku mulai tak karuan irama nya. Tapi aku mencoba tenang. Aku mencoba menyusun kata kata di otak ku.
“Apa kamu mau tau kemana aku setahun ini?”
Aku tercengang mendengar pernyataan nya. Jantung ku mulai tak karuan irama nya. Tapi aku mencoba tenang. Aku mencoba menyusun kata kata di otak ku.
“Bukan kah kamu sudah memutuskan?”
Tiba tiba ia menatap ku. Ia menarik bahu ku hingga kami berhadapan. Mata nya terlihat begitu serius. Aku tahu kemana arah pembicaraan ini.
Tiba tiba ia menatap ku. Ia menarik bahu ku hingga kami berhadapan. Mata nya terlihat begitu serius. Aku tahu kemana arah pembicaraan ini.
“Kamu tahu kan? Aku tak bisa melepaskan nya. Dia bagian dari
hidup ku. Dan aku harus memilih.”
“Aku mengerti. Aku juga sudah menduga alasan mu. Tapi..”
Tiba tiba saja kata kata itu seakan tertahan di tenggorokan ku. Aku terbata tapi aku harus mengatakan nya.
“Aku mengerti. Aku juga sudah menduga alasan mu. Tapi..”
Tiba tiba saja kata kata itu seakan tertahan di tenggorokan ku. Aku terbata tapi aku harus mengatakan nya.
“Tapi kenapa harus pergi tanpa ada kata? Seandainya kamu
bicara, aku pasti mengerti.”
Ia melepaskan tangan nya dari bahu ku. Ia berdiri. Mata nya kosong menatap danau. Beberapa detik. Sampai akhirnya dia berkata.
Ia melepaskan tangan nya dari bahu ku. Ia berdiri. Mata nya kosong menatap danau. Beberapa detik. Sampai akhirnya dia berkata.
“Aku tak mau membuatmu semakin terluka. Aku tak bisa
melihatmu menangis. Setidaknya dihadapanku.”
Hah? Apa yang dia pikirkan? Apa dia tidak mengerti jika apa
yang dilakukan nya malah membuat ku semakin hancur. Apa dengan pergi begitu
saja aku tak kan terluka? Apa itu yang terbaik menurut nya? Aku tak habis
piker. Aku tak mengerti jalan pikirannya. Aku tak bisa menjawab. Aku hanya bisa
diam.
Kini ia duduk lagi. Aku ingin sekali marah. Menangis
dihadapan nya. Tapi hanya bisa tertahan.
Tatapan nya kali ini kembali redup.
“Maaf kan aku. Untuk itu lah aku datang hari ini. Apa kamu
mengerti, jika aku menyayangimu?”
Aku tersentak mendengar kata kata nya. Yang ada di kepala ku
hanya ada kata kenapa? Kenapa baru sekarang? Dan banyak lagi kata kenapa. Aku
hanya menahan air mata ku yang sudah ingin sekali mengalir.
“Kamu yang selalu membuatku mengerti apa arti hidup ku. Kamu
selalu membuat hidupku berguna. Kamu selalu ada saat aku menangis. Bahkan saat
tak ada orang yang peduli. Kamu yang bercerita padaku apa arti hidupku. Kamu
selalu membuatku istimewa. Aku sayang kamu Ta. Kamu adik terbaik yang pernah ku
punya. “
Aku tak kuasa lagi menahan air mataku. Air mata itu mengalir
begitu saja. Tapi kali ini aku tersenyum. Senyum yang bukan terpaksa. Aku benar
benar tersenyum.
“Maaf kan aku. tapi ku harap semuanya belum terlambat.” Kata nya sambil mengusap air mataku.
“Maaf kan aku. tapi ku harap semuanya belum terlambat.” Kata nya sambil mengusap air mataku.
“Tidak. Kamu juga tau kan kalau selalu ada maaf untukmu.”
Sesaat kami saling menatap. Hingga akhirnya aku mengalihkan
pandangan ku ke danau. Menatap air nya yang tenang. Setenang hatiku kini. Kami
terdiam. Membiarkan angin menyapa wajah kami. Menikmati suara alam.
“Jika ini adalah pertemuan terakhir kita, apa yang ingin kamu
minta dariku?” Suaranya memecah keheningan.
Aku berfikir sejenak. Mata nya berkata dia serius. Ya, dia
tidak bergurau. Tiba tiba saja terlintas sebuah keinginan.
“Jadilah pacarku hari ini saja.” Kata kata itu begitu saja
terlontar dari mulutku. Tapi,aku tak menyesalinya.
Dia tersenyum lalu menjawabku.
“Apakah kamu mau menjadi pacarku?”
Aku hanya tersenyum lalu mengangguk.
Aku hanya tersenyum lalu mengangguk.
“Kalau begitu aku tak mau membuang waktu hari ini.” Dia lalu
menarik tanganku. Mengajakku naik perahu. Berdua,berlayar mengarungi danau
terindah ini.
Ini gila! Tapi menyenangkan. Diatas perahu ini, adalah waktu
terakhir yang bisa aku habiskan bersamanya. Dan aku menikmatinya. Kali ini dia
membuatku merasa istimewa.
“Suatu saat nanti, aku ingin melihat adik ku ini tersenyum
bahagia. Walau tanpa aku”
“Aku pasti bisa.”
Dia menggenggam tangan ku. Erat, sangat erat. Lalu tanganya
mengusap kepalaku. Aku sungguh bisa merasakan kasih sayang nya saat itu.
Tuhan… Jangan biarkan hari ini berakhir.
**
Baru kali ini aku tak suka senja datang. Apalagi besok
adalah hari minggu. Biasanya aku senang sekali hari minggu tiba. Tapi kali ini
aku tak ingin cepat cepat berganti hari. Aku masih ingin bersamanya. Masih
ingin memeluknya.
“Berjanjilah padaku kamu tak akan menangis setelah ini” Ia
melepaskan pelukannya. Lalu menatapku. Tatapan itu hangat sekali. Seperti senja
ini. Mata itu sama indahnya dengan rona senja yang saat ini menemani kami.
“Iya, aku janji.”
Ia mengusap kepalaku, lalu mencium keningku. Terakhir kali
nya.
“Sudah gelap. Kamu akan ku antar pulang.”
Kami berjalan menuju tempat parkir motornya. Lalu kami
pulang. Perlahan,motornya melaju meniggalkan danau itu. Perlahan juga, kenangan
itu kusimpan rapat rapat. Bersama gambar gambar yang tadi kami ambil. Dengan
semua benda yang dia berikan hari ini. Bunga ini, foto ini, dan semuanya.
Kusimpan bersama kisah yang sudah selesai kami tulis. Kemudian tenggelam
bersama senja.
“Terima kasih untuk hari ini” kataku setelah turun dari
motor nya.
“Terima kasih juga untuk segalanya” katanya sambil
tersenyum. Senyum itu sepertinya senyum terakhir yang mungkin ku lihat.
“Setelah kamu masuk kedalam rumahmu nanti, aku tak boleh
lagi mengenalmu. Aku telah berjanji padanya untuk tak lagi mengenalmu. Kamu
mengerti kan?”
“Iya. Aku sudah tau. Bahkan sebelum kamu memberi tau ku.”
Aku tersenyum menatapnya. Matanya terlihat redup. Tapi tetap saja indah.
“Ingat janjimu, ingat pesanku. Dan jangan lupakan aku.
Selamat tinggal Vista.”
Aku tersenyum sambil menatapnya meninggalkan halaman
rumahku. Aku masih terus memandangnya bahkan saat ia telah menghilang di ujung
jalan. Sudah berakhir. Sudah selesai.
“Kita putus ya? Selamat tinggal… Kakak.”


0 komentar:
Posting Komentar